Senin, 27 September 2010

Temanku Di Dunia Nyata, Musuhku Di Dunia Maya

Teman adalah seseorang yang menyukaimu, seseorang dengan siapa kamu dapat menjadi diri sendiri, seseorang yang menghargai kebaikan-kebaikanmu, tidak keberatan dengan kekuranganmu, dan melihat kelebihan-kelebihan dalam dirimu, dengan seorang teman kau dapat berbagi tawa, berbagi rahasia, bertukar pikiran, berbagi kesuksesan maupun kekecewaan dan macam-macam persoalan besar maupun kecil, sebaliknya, Musuh adalah orang yang tidak sepaham dengan kita, yang selalu membuat hati kesal bila melihatnya, sangat menjengkelkan, ingin rasanya menyakitinya, membuat dia tersiksa, agar dia jera. Tapi, bagaimana bila seseorang mendapatkan dua hal tersebut di satu orang?
Ini cerita seorang anak yang bernama Hilman dimana kepolosannya masih terlihat karena memang dia baru saja masuk ke jenjang SMP. Tak disangka olehnya kalau teman-teman di asal sekolahnya tidak ada satupun yang masuk disana. Oleh karena itu dia hanya bisa berpikir “bagaimana aku bisa mendapat teman? Kalau tak ada satu pun orang yang aku kenal disini?” hanya kalimat itu yang ada dibenaknya. Dengan kegugupan di hari pertamanya masuk sekolah, dengan raut muka cemas dia melirik tiap nama yang ada di daftar murid kelas, ‘deg-deg-deg’ jantung berdetak kencang, tertulis jelas nama Hilman Nugroho di deret 18 kelas IX-4. Masih dalam keadaan gugup dia memberanikan diri untuk masuk kelas, yang dia liat hanya raut muka yang asing. Sambutan pertama kali masuk kelas kurang menyenangkan bagi dia, karena berisi caci-maki dari salah satu murid yang kelihatannya dia anak nakal.
Proses mencari teman pun dia lakukan, beruntung sekali di hari pertama itu dia bisa mendapatkan teman, panggil saja Arif dengan ciri gigi depannya yang patah bersama temannya yang bernama Raka, tapi Hilman cenderung akrab kepada Arif karena keusilannya di kelas. Menurutnya, Arif merupakan temen ideal buatnya.
Waktu pun terus berjalan, keakraban mereka berdua terus meningkat, hingga teman-teman sekelasnya menyebut mereka ‘adek-kakak’. Tapi ada dua perbedaan diantara kedua anak ini, Hilman dengan kepintarannya dan Arif sebaliknya, karena tingkat kepintaran mereka berbeda itulah yang membuat mereka semakin akrab. “aku lebih akrab dengan orang yang usil dan jahil” sahut Hilman, terbukti dia lebih akrab dengan teman-temannya yang usil, terutama Arif yang tingkat keusilannya mencapai 99,95%. Keusilan Arif terus menerus dilakukan, tak hanya pada Hilman tetapi seluruh anak di kelasnya juga terkena dampak keusilannya, reaksi dari tiap anak berbeda-beda, ada yang marah, nangis, tertawa pun juga ada. Menurut Hilman hal itu biasa saja, “hanya sekedar untuk ‘lucu-lucuan’” dalam pikirannya.
Tapi karena sikap inilah yang mebuat Hilman menjadi bulan-bulanan temannya tersebut, beruntung dia mempunyai tingkat kesabaran yang tinggi, kalau tidak, mugkin dari detik itu pun status mereka sudah bukan teman lagi. “kenapa anak usil banyak temennya yah?” Tanya Hilman, “jelas, sebab mereka semua takut padaku” jawab Arif. Pandangan Arif kepada teman-temannya memang seperti itu, laganya sok jagoan merasa paling tangguh, paling kuat, apalah-itulah, yang pasti dapat membuat orang jengkel setengah mati. Hilman pun mulai merasakan rasa jengkel tersebut.
Hilman dan Arif mempunyai kesamaan dan perbedaan, mereka sama-sama kreatif dalam menemukan inovasi baru, sama-sama pintar dalam hal seni, dan yang pastinya sama-sama makan nasi. Perbedaan mereka terletak pada cara berfikir, Hilman dengan otaknya, sedangkan Arif dengan ototnya yang selalu mengajak orang untuk berkelahi.
Status pertemanan mereka tak lekang oleh waktu, beruntung ada teknologi abad 20 yang bernama facebook, interaksi mereka bisa berlangsung lewat dunia maya. Tapi sayangnya Hilman belum tertarik untuk menggunakannya, tetapi Arif sudah lama menggunakannya jelas karena dirumahnya sudah ada jaringan LAN atau Internet. “man, punya facebook gak?” Tanya Arif, “enggak” jawab Hilman, “hahahaha (tertawa meledek), ketinggalan jaman kau” Arif meledek Hilman, “tak apalah, yang penting masih hidup,kurang butuh facebook” jawab Hilman, “facebook itu kebutuhan masyarakat jaman sekarang” Arif mulai sok beragumen, “iya tau, sebenarnya sudah punya, tapi sayangnya lupa password (“berbohong untuk kebaikan” dalam hatinya)” jawab Hilman. Hilman mulai merasa jengkel dengan Arif karena sudah merendahkan dirinya, “nanti aku mau minta jaringan internet ke rumahku, agar bisa tiap hari lihat keusilan kau” kata Hilman, “kayak punya komputer aja, pergi ke warnet aja sana” jawab Arif dengan nada menyindir, “enak saja, sudah lama aku punya, tapi belum tersambung ke internet, ke warnet kau kira murah, tiap hari keluar uang hanya untuk menatap monitor” kata Hilman dalam keadaan jengkel, “oh yasudah, silahkan” kata Arif, “lihat nanti kalau aku sudah punya facebook” jawab Hilman menantang. Keduanya terus beradu argumen tentang facebook, munkin hal ini bisa berarti awal pertentangan mereka.
Naik ke kelas 8 mereka mulai memperlihatkan pertentangan diantara mereka, mereka sudah tak sekelas lagi tapi mereka masih akrab, pertentangan mereka dimulai hanya karena jejaring social facebook.
“rif, aku sudah punya facebook” sahut Hilman, “aku gak tanya, lihat nanti di facebook, aku usilin kau” jawab Arif, “gak di sini gak di facebook kerjaannya usilin orang terus” kata Hilman dengan nada menyindir. Ternyata perkataan Arif benar, dia benar-benar usil memberi Hilman sebuah link ke facebook nya yang akan menuju ke sebuah permainan, tapi ada sesuatu di dalamnya, apakah itu?. “Si Arif tau aja kesukaanku, permainan bagus nih” Hilman dengan senangnya mencoba permainan yang diberikan Arif, tapi diujung permainan tersebut ada sesuatu, “yah kok permainannya gak bisa jalan? sedikit lagi menang nih” Hilman kebingungan, tak lama setelah permainan berhenti, dengan kecepatan cahaya dari monitor keluar sebuah gambar menyeramkan tak lain dan tak bukan yaitu ‘setan’, dengan kecepatan suara dari speaker keluar suara menakutkan, gara-gara hal tersebut dia pun tersentak kaget hingga keyboard di atas meja komputer terlempar dibuatnya.
“Sial!!!!! Tunggu pembalasanku,!!! Awas kau!!!” Hilman marah pada Arif di facebook, “wuahahahaha (tertawa terbahak-bahak), rasakan kau!!!” Arif mengejek, “kalau orang jantungan bagaimana? Dasar bodoh!!” kata Hilman dengan emosi yang tidak terkontrol, “tinggal bawa ke rumah sakit” jawab Arif, “seenaknya kau bicara, kalau begini caranya mending kita lakukan cyber war (perang cyber)” Hilman mulai menantang Arif, “bagaimana caranya?” tanya Arif, “dengan cara mengedit foto musuh dengan Photoshop, aku sebut ini ‘Photoshop Duel’” jawab Hilman dengan berani, “oke, siapa takut!” Arif menerima tantangan dari Hilman. Di facebook mereka bagaikan musuh, tapi di dunia nyata mereka tetap teman, keakraban mereka di dunia nyata tidak hilang, mereka membuat kesepakatan bahwa hanya di dunia maya saja mereka bertengkar, tapi di dunia nyata tidak, karena memang mereka itu akrab sekali dari pertama bertemu. Mereka berdua bagaikan soul mate, ada saja kebetulannya.
Berbagai cara dilakukan Hilman di facebook untuk membalas perilakunya setengah tahun lalu, saat ini mereka sudah di kelas 9 dan mereka satu kelas lagi, akhirnya dua anak aneh ini bertemu juga. Hilman berniat untuk meng-hack akun Arif, berbagai software dia coba untuk menjebol akun facebook Arif tapi tak ada yang manjur. “waktu itu kan si Arif kasih link berisi setan, aku kasih saja ke dia dalam bentuk lain, bukan permainan tapi yang lebih menarik, aku cari dahulu, kemudian aku iming-imingkan ke dia, biar tau rasa, ahahahaha (tertawa layaknya iblis)” makin mantap niatnya. Akhirnya dia menemukannya, saatnya untuk promosi. “Rif, ikut main ini yuk http://www.killerjo.net/ ! Ceritanya kita lagi ada di bulan jadi astronot terus buat tempat tinggal kau di bulan tersebut (membohongi Arif)” kata Hilman berpura-pura, “wah kayaknya keren nih, aku coba dulu” Arif terbujuk, “berhasil, berhasil, berhasil, hore!! We did it!!” Hilman menyanyikan lagu ‘Dora The Explorer’. Tak lama setelah itu muncul pemberitahuan terbaru di facebook, dia melihat di ‘dinding’nya ternyata Arif marah-marah, “awas kau!!!! Tunggu tanggal mainnya!! Aku balas kau!!” Arif sepertinya marah, ditempat berbeda Hilman dengan bangganya tertawa meriahkan keberhasilannya mengusili anak terusil di kelasnya, dia pun menulis komentar di kiriman si Arif, “wuahahahaha (tertawa terbahak-bahak) itu buat setengah tahun yang lalu!” komentar Hilman.
Perang Cyber itu terus berlanjut, hampir setiap hari mereka bertengkar di facebook, waktunya ‘Photoshop Duel’. “Rif, mana karya kau? Katanya kita adu photoshop? Nih punyaku udah jadi” dengan percaya dirinya menunjukan hasil karyanya “oke, nanti biar Ipal yang jadi jurinya”. Tetapi tak ada gerak-gerik dari Arif. Saat ini mereka sudah berada di jenjang SMA, mereka sudah berpisah tapi keakraban mereka masih terlihat. Tapi bukannya membaik malah memburuk, pertentangan mereka makin membara, mereka adu mulut tanpa henti di facebook, karena itu mereka memutuskan untuk menghapus status teman mereka di facebook, dan memblokir satu sama lain. Interaksi mereka cukup sampai disini, “mungkin ini jalan terbaik agar pertentangan kita tidak berlanjut” ucap Hilman.
Sudah lebih dari 3 bulan mereka tidak bertemu, “biarpun di facebook kita bertengkar, pasti kalau udah ketemu malah senyam-senyum ketawa bareng” Hilman mencoba mengingat masa lalu. Hanya waktu yang bisa menentukan kapan mereka dapat bertemu. Sampai sekarang tak ada kabarnya, mungkin saja mereka sudah sibuk dengan urusannya masing-masing dan sekali lagi hanya waktu yang bisa menentukan. Persahabatan tak akan berakhir.
SELESAI

0 komentar:

Posting Komentar

free counters

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites